Sabtu, 28 Agustus 2010

Kakek dan Teknplogi

Satu keluarga sedang makan malam. Mereka bahagia dan tertawa-tawa gembira. Ibu tersedak saking senangnya. Mereka ternyata menertawai layar handphone. Papa kirim imel, Mama main Facebook, Karin ngakak baca update-an Twitter, Rara menyumpal kuping dengan earbud. Dimas bibirnya monyong-monyong. Lagi membantai tentara Iraq di PSP, katanya. Nenek tak mau kalah! Dia mendengarkan radio, dari hape juga.

Kakek memperhatikan mereka satu per satu. Bibir menyunggingkan senyum. Tapi mata menyiratkan duka. Dia melirik satu majalah dan membaca judulnya pelan. Untung judul artikel itu hurufnya besar. Kakek tak membutuhkan kacamata bacanya.

“Teknologi: Mendekatkan yang jauh. Menjauhkan yang dekat?”

Kakek menarik napas dalam. Hidungnya samar-samar membaui aroma kopi tubruk, tawa hangat, pelukan sahabat, dan percakapan di tengah malam buta. Aroma kopi terus menghanyutkan pikiran kakek, menuntunnya ke labirin masa lalu. Di masa semua masih sederhana, dan satu pelukan masih berharga. Kakek ingat saat berdebat dengan Nenek, menyekolahkan Papa ke UI, atau ITB? Sekarang, nenek lebih cinta dengan hp ber- radionya.

Kakek mendesah. Hembusan dingin di tengkuk melemparkan Kakek ke sofa empuk masa kini. AC kafe ini sangat dingin. Sedingin istri-anak-cucunya. Tiba-tiba Papa berseru senang. Suara pertama yang dia keluarkan. “Tender berhasil! Thank you BlackBerry” Kakek berharap, dia yang dipeluk, bukan si BlackBerry. Tak lama, Mama juga berteriak “Aku dapet kristal baru! Diskon 50%! Thanks, FB!” Kakek ikut senang, walau dia tak mengerti, apa itu fb?

Makan malam selesai. Papa yang membayar. Semua senang. “Papa, minggu depan ikut lagi, ya? Enak kalo kumpul gini..” Kakek tersenyum. Pahit. Buat Kakek, makna berkumpul adalah ngobrol dengan manusia. Bukan menertawai layar hp, olahraga jempol, menyumpal kuping dan senyum sendiri. Tapi Kakek tetap senang masih bisa berkumpul. Keluarga. Itu yang terpenting. Teknologi tak akan pernah bisa menggantikan sentuhan hangat dan senyum tulus.

Kakek sudah tak sabar makan malam bersama lagi. Dia punya satu rencana besar. Begitu bergairahnya, jemari Kakek sampai bergetar. Tremor.

Tapi, tak pernah lagi Kakek diajak makan malam bersama. Keluarganya memusuhinya. Papa terpaksa harus beli 5 hape lagi, satu PSP buat Dimas, dan satu iPod baru. Kakek telah melempar barang-barang itu ke panci Shabu-shabu.

Walaupun sedih, Kakek senang. Tindakannya sudah membuat mereka semua “berkomunikasi” tanpa bantuan teknologi.

Jumat, 20 Agustus 2010

Lyrics Lirik Lagu Owl City - Vanilla Twilight

The stars lean down to kiss you
And I lie awake and miss you
Pour me a heavy dose of atmosphere

'Cause I'll doze off safe and soundly
But I'll miss your arms around me
I'd send a postcard to you, dear
'Cause I wish you were here

I'll watch the night turn light-blue
But it's not the same without you
Because it takes two to whisper quietly

The silence isn't so bad
'Til I look at my hands and feel sad
'Cause the spaces between my fingers
Are right where yours fit perfectly

I'll find repose in new ways
Though I haven't slept in two days
'Cause cold nostalgia
Chills me to the bone

But drenched in vanilla twilight
I'll sit on the front porch all night
Waist-deep in thought because
When I think of you I don't feel so alone

I don't feel so alone, I don't feel so alone

As many times as I blink
I'll think of you tonight
I'll think of you tonight

When violet eyes get brighter
And heavy wings grow lighter
I'll taste the sky and feel alive again

And I'll forget the world that I knew
But I swear I won't forget you
Oh, if my voice could reach
Back through the past
I'd whisper in your ear
Oh darling, I wish you were here